Mengajarkan AI kepada anak usia dini bukan soal coding atau robotik canggih, tapi memperkenalkan cara berpikir yang membentuk fondasi kognitif sejak awal. Inilah pendekatan baru pendidikan abad 21 yang mulai ramai diperbincangkan.
Menurut Profesor dari AI Lab, memperkenalkan konsep kecerdasan buatan kepada anak-anak bukan berarti membebani mereka dengan bahasa pemrograman. Sebaliknya, ini adalah cara mengenalkan logika, pengamatan, sebab-akibat, dan pola berpikir kritis melalui aktivitas sederhana seperti bercerita, menggambar, atau bermain.
“Belajar AI bukan soal teknologinya. Tapi soal ngajarin anak berpikir kritis, mengenali pola, dan punya rasa ingin tahu yang sehat,” jelas Profesor.
Pendekatan ini sudah mulai diuji coba di beberapa negara seperti Finlandia dan Singapura, yang memasukkan konsep dasar AI ke dalam kurikulum usia dini lewat media interaktif dan permainan edukatif. Tujuannya bukan menjadikan anak sebagai teknolog muda, melainkan menyiapkan mereka menghadapi dunia yang semakin terdigitalisasi.
Psikolog pendidikan menyebutkan bahwa masa usia dini adalah waktu emas untuk membentuk pola pikir terbuka dan adaptif. “Kalau diajarkan dengan cara kontekstual dan menyenangkan, anak-anak tidak akan merasa sedang belajar AI — mereka merasa sedang bermain dan bereksplorasi,” ujar salah satu konsultan pendidikan di Jakarta.
Mengajarkan AI sejak dini bukan untuk mencetak jenius teknologi, tapi menumbuhkan generasi yang memahami dan memaknai teknologi secara bijak. Pertanyaannya kini: apakah sistem pendidikan kita siap mengubah pendekatan belajarnya?