Microsoft mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 6.000 karyawan—sekitar 3 % dari total tenaga kerja global—khususnya mengincar insinyur perangkat lunak, manajer produk, serta bahkan beberapa direktur AI. Langkah ini dilakukan meski perusahaan mencatat pendapatan dan laba meningkat, menunjukkan motivasi strategis di balik restrukturisasi besar bersamaan dengan kemajuan AI. CEO Satya Nadella menyatakan bahwa saat ini 20–30 % kode ditulis oleh AI, dan bisa mencapai 95 % pada 2030, sehingga struktur organisasi perlu disesuaikan.

Menurut analisis Bloomberg, lebih dari 2.000 insinyur hilang dari kantor pusat di Washington—membuat mereka kelompok paling terdampak. Sementara penjualan, pemasaran, dan dukungan pelanggan relatif aman dari PHK ini. Paul Roetzer dari Marketing AI Institute menyebut ini bagian dari “quiet AI layoffs”: pemutusan yang terlihat sebagai efisiensi, tapi sejatinya karena AI telah mengambil alih pekerjaan teknis.
Media seperti Economic Times mencatat PHK ini sejalan dengan fokus besar Microsoft pada investasi AI senilai US $80 miliar tahun ini, bertujuan mendukung data center dan layanan cloud AI.
Lebih ironis lagi, Direktur AI untuk Startups, Gabriela de Queiroz, termasuk salah satu yang terdampak, menunjukkan bahwa bukan hanya level entry, tapi juga kepemimpinan teknologi yang terdampak AI.
Di Bay Area, dokumen resmi WARN menyebutkan 122 posisi insinyur dan manajer produk hilang. Mereka akan menerima pemberitahuan akhir kerja pada 12 Juli 2025.
Peristiwa ini menunjukkan paradigma baru dalam dunia kerja: AI bukan hanya alat bantu, tetapi kini turut mengubah struktur organisasi dan menentukan keberlangsungan pekerjaan manusia. Bagi tenaga kerja teknis, pertanyaan utama bukan lagi “apakah AI bisa?” tapi “siapa yang tetap dibutuhkan saat AI mengambil alih?”