AI kini mengungguli manusia dalam ranah yang selama ini dianggap eksklusif bagi manusia: empati. Model GPT-4 milik OpenAI mencetak skor 82% dalam tes empati, jauh melampaui rata-rata manusia yang hanya 56%. Temuan ini mengguncang batas antara kecerdasan buatan dan kecerdasan emosional.

Tes tersebut bukan menguji logika atau kemampuan analitik, melainkan kepekaan emosional. Peserta—baik manusia maupun AI—diberi skenario kehidupan nyata seperti konflik kerja, dukungan untuk teman, atau situasi stres. Mereka diminta merespons secara emosional dan dinilai oleh panel ahli.
GPT-4 tidak hanya menjawab dengan akurat, tetapi juga mampu membuat soal empati sendiri. Menurut penilaian profesional, soal buatan AI ini setara dengan buatan psikolog terlatih.
Para peneliti menjelaskan bahwa AI tidak benar-benar “merasakan” empati, melainkan meniru respons empatik berdasarkan pola bahasa dan data miliaran interaksi manusia. “Ini bukan empati sejati, tapi representasi linguistik yang sangat meyakinkan,” ujar Dr. Molly Crockett, pakar psikologi dari Princeton.
Kemampuan ini berpotensi besar digunakan dalam pelatihan interpersonal, layanan pelanggan, hingga terapi awal. Namun para ahli memperingatkan risiko ketergantungan dan kemungkinan penyalahgunaan dalam konteks sosial yang lebih kompleks.
Pencapaian GPT-4 menandai era baru di mana empati bisa disimulasikan dengan akurasi tinggi. Meski belum bisa menggantikan kedalaman emosi manusia, AI kini telah cukup fasih berpura-pura peduli—dan itu saja bisa membawa dampak besar di dunia nyata.