Geoffrey Hinton, dikenal sebagai “Bapak AI Dunia”, dianugerahi Nobel 2024 atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, dalam pidato penerimaannya, ia menyampaikan peringatan keras soal potensi destruktif AI terhadap masyarakat.
Hinton, salah satu pionir deep learning dan tokoh penting di balik kemajuan AI modern, menyampaikan keprihatinan mendalam terkait arah pengembangan teknologi tersebut. Ia menyoroti bahwa AI sudah menimbulkan dampak negatif nyata, dan risiko ke depannya bisa lebih besar jika tidak diawasi dengan ketat.
“Jika AI dikembangkan demi keuntungan jangka pendek, keselamatan publik akan jadi korban,” ujar Hinton dalam pidatonya.
Ia menyebutkan beberapa ancaman utama yang ditimbulkan AI saat ini, termasuk:
- Echo chamber informasi yang memperkuat polarisasi politik
- Pengawasan massal oleh pemerintah dan korporasi
- Phishing global yang semakin canggih
- Potensi munculnya entitas digital supercerdas yang sulit dikendalikan manusia
Peringatan ini datang di tengah perlombaan global mengembangkan AI generatif dan sistem otonom canggih oleh raksasa teknologi. Banyak pihak menganggap penghargaan Nobel ini sebagai pengakuan atas pentingnya AI, namun juga sebagai momen refleksi.
Di Indonesia, AI Lab menanggapi pernyataan Hinton dengan menekankan pentingnya edukasi yang menyeluruh, termasuk soal etika dan dampak sosial AI.
“Belajar AI bukan hanya soal teknologi. Tapi juga soal masa depan, dan keberanian untuk mengarahkannya ke jalan yang benar,” ujar pernyataan resmi AI Lab.
Penghargaan Nobel untuk Hinton bukan hanya pengakuan atas pencapaian teknis, tetapi juga seruan global untuk berhati-hati. Dalam dunia yang kian bergantung pada kecerdasan buatan, pesan Hinton menegaskan perlunya tanggung jawab moral dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan manusia.