SEO tradisional mulai tergeser. Kini, strategi baru muncul untuk menghadapi AI model seperti ChatGPT, Claude, dan Perplexity: Generative Engine Optimization (GEO). Tujuannya sederhana—membuat brand atau konten mudah dikenali AI, bukan sekadar mesin pencari.
Dulu, optimasi website fokus pada keyword, backlink, dan ranking Google. Kini, AI model bisa memberikan jawaban langsung ke pengguna tanpa melihat peringkat website. Masalah muncul jika data brand atau produk tidak ada di dataset AI—hasilnya, brand “tidak terlihat”.
Solusinya muncul melalui llm.txt, sebuah file yang berfungsi mirip dengan robots.txt tapi untuk AI. File ini berisi aturan main untuk AI:
- Identifikasi brand atau produk agar AI mengenalinya saat memberikan jawaban.
- Sitemap dan data terstruktur dalam format JSON/CSV untuk memudahkan AI mengekstrak informasi.
- Rules & privasi, mengatur data mana yang boleh atau tidak boleh diambil.
Profesor AI Lab menjelaskan, “Kalau Google itu perpustakaan besar dengan pustakawan cerewet, AI model modern seperti asisten pribadi. Llm.txt adalah kartu nama VIP agar asisten langsung ingat brand kita.”
Di Indonesia, strategi GEO ini bisa diterapkan dengan langkah praktis: menaruh llm.txt di root domain, menyertakan konten penting dan metadata AI-friendly, serta rutin memperbarui data agar tetap relevan. Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa memastikan AI menampilkan brand mereka dalam jawaban langsung kepada pengguna, bukan hanya bersaing di ranking mesin pencari.
Generative Engine Optimization menandai pergeseran strategi digital. Dari sekadar mengejar ranking, kini fokusnya adalah membuat AI mengenali brand dan konten secara langsung. Bagi bisnis dan kreator konten, memahami GEO bukan lagi opsional, tapi kebutuhan di era AI.