Sebagian besar lulusan perguruan tinggi kini menghadapi kenyataan bahwa gelar akademik tidak lagi menjamin pekerjaan. Kebutuhan keterampilan AI seperti ChatGPT, Notion AI, dan Midjourney menjadi syarat baru di pasar kerja, sementara pengajaran resmi belum mengikutinya.
Fenomena ini dialami banyak mahasiswa dan lulusan yang menghabiskan waktu bertahun-tahun serta biaya besar untuk kuliah, namun merasa kurang siap menghadapi tuntutan dunia kerja yang berubah cepat. Lowongan kerja entry-level kini semakin langka, dan perusahaan cenderung mencari kandidat yang mampu menguasai alat-alat AI untuk menyelesaikan pekerjaan dasar secara efisien.
Survei menunjukkan hampir 50% generasi Z meragukan relevansi gelar mereka di pasar tenaga kerja saat ini. Di sisi lain, ada kekhawatiran mahasiswa menggunakan AI dalam belajar karena takut dianggap curang, kurang akurat, atau berdampak buruk bagi lingkungan karena konsumsi energi.
Seorang profesor AI menegaskan, gelar akademik tetap menjadi pondasi penting, namun keterampilan menggunakan dan beradaptasi dengan teknologi AI adalah kunci sukses di masa depan. “Gelar adalah fondasi, AI skills adalah tangga menuju atap kesuksesan,” ujarnya.
Profesor tersebut juga menekankan pentingnya kemampuan adaptasi, berpikir kritis, dan kolaborasi dengan teknologi. “Dunia kerja sudah berubah. Bila kampus belum menyediakan pembelajaran keterampilan relevan, maka tanggung jawab ada pada individu untuk terus belajar dan mengajak orang lain beradaptasi.”
Di masa depan, mereka yang mampu berkolaborasi secara sadar dan bijak dengan AI, bukan hanya yang memiliki ijazah, akan lebih mampu bertahan dan berkembang di dunia kerja. Transformasi pendidikan dan adaptasi keterampilan AI menjadi kunci utama menghadapi perubahan zaman.