Seorang kreator tunggal dengan bantuan alat-alat AI sukses menciptakan film sinematik bergaya Hollywood bertajuk Age of Beyond. Proyek ini memperlihatkan bagaimana teknologi AI kini mampu mewujudkan visi kreatif berskala besar dengan sumber daya minimal.
Film Age of Beyond digagas, ditulis, disutradarai, dan diedit oleh kreator independen dengan nama pengguna @azealter. Ia memanfaatkan berbagai teknologi AI seperti Luma Labs untuk pemodelan 3D, Kling AI dan Runway untuk visual dan editing, Eleven Labs untuk sulih suara, serta Minimax untuk proses kreatif lainnya.
Hasilnya adalah sebuah karya visual penuh imajinasi, lengkap dengan world-building mendalam, kualitas sinematografi yang mengesankan, dan musik orkestra yang mampu membangkitkan emosi layaknya produksi film besar.
“Ini bukan sekadar kumpulan gambar dari AI. Ini storytelling utuh,” tulis sejumlah warganet yang memuji proyek tersebut di media sosial.
Fenomena ini menandai perubahan signifikan dalam dunia perfilman independen, di mana teknologi kini memungkinkan satu individu untuk mengeksekusi proyek yang dulunya memerlukan kru besar dan anggaran jutaan dolar. Beberapa pengamat menyebutnya sebagai “awal dari era demokratisasi sinema berbasis AI”.
Age of Beyond menjadi bukti konkret bahwa AI tidak hanya alat bantu teknis, tetapi juga medium ekspresi artistik. Di tengah perdebatan soal peran AI dalam seni, karya ini menunjukkan bahwa masa depan sinema mungkin akan ditulis oleh satu orang—bersama sekumpulan AI.