Pada 17 November 2023, dunia teknologi dikejutkan oleh pemecatan mendadak CEO OpenAI, Sam Altman, hanya lima menit sebelum pengumuman resmi. Langkah mengejutkan ini memicu krisis internal besar, termasuk pengunduran diri Presiden Greg Brockman dan ancaman eksodus massal oleh lebih dari 700 karyawan.
Dewan direksi OpenAI mengklaim Altman “tidak selalu komunikatif secara jujur,” tanpa merinci pelanggaran spesifik. Namun sumber internal menyebut keputusan dewan dipicu kekhawatiran soal laju perkembangan AI yang dianggap terlalu cepat dan kurang pengawasan etis.
Greg Brockman, salah satu pendiri OpenAI, langsung mengundurkan diri sebagai bentuk solidaritas. Sebagai respons, karyawan OpenAI menyatakan dukungan terbuka kepada Altman—bahkan 700 dari 770 karyawan menandatangani surat terbuka menyatakan siap mundur massal kecuali Altman dan Brockman dikembalikan ke posisi mereka.
Di tengah kekacauan, Microsoft—investor terbesar OpenAI—mengumumkan bahwa Sam Altman dan Greg Brockman akan bergabung untuk memimpin tim AI baru di Microsoft. Namun hanya dua hari kemudian, pada 21 November, OpenAI mengumumkan Altman kembali menjabat sebagai CEO.
Sebagai bagian dari restrukturisasi, dewan lama dibubarkan dan digantikan oleh susunan baru yang lebih profesional, termasuk mantan CEO Salesforce Bret Taylor dan mantan Sekretaris Keuangan AS Larry Summers. Pemulihan ini menunjukkan adanya tekanan besar dari komunitas teknologi global terhadap stabilitas OpenAI.
Kisruh internal OpenAI menandai babak baru dalam perdebatan etika dan kepemimpinan dalam pengembangan kecerdasan buatan. Sam Altman kini kembali memimpin, namun pertanyaan soal tata kelola, transparansi, dan masa depan AI masih menggantung di udara.