China Luncurkan Kota Super Canggih Xiong’an, Tapi Masih Sepi Penghuni

China meresmikan Xiong’an sebagai kota masa depan dengan infrastruktur digital 10G broadband dan teknologi pintar terintegrasi. Namun, kota senilai Rp1,6 kuadriliun ini justru disebut-sebut lebih ramai drone daripada manusia.

(240207) — XIONG’AN NEW AREA, 7 Februari 2024 (Xinhua) — Foto udara yang diambil dengan drone pada 6 Februari 2024 menunjukkan lokasi konstruksi markas besar China Satellite Network Group di Kawasan Baru Xiong’an, Provinsi Hebei, Tiongkok utara.
Sekitar 100 km dari Beijing, Kawasan Baru Xiong’an dirancang sebagai penerima utama fungsi-fungsi non-esensial dari ibu kota Beijing.
Pemerintah Tiongkok juga berkomitmen membangun Xiong’an — yang dijuluki “kota masa depan” — menjadi kota inovatif, hijau, pintar, dan kelas dunia dengan langit biru, udara segar, dan air bersih, sejalan dengan jalur pembangunan berkualitas tinggi negara itu.
Dalam waktu kurang dari tujuh tahun, Xiong’an telah berubah dari sekadar cetak biru menjadi kenyataan, dengan lebih dari 3.000 bangunan berdiri di atas lahan rendah dan desa-desa kumuh yang sebelumnya tak berkembang. Selain itu, lebih dari 200 anak perusahaan dan cabang berbagai BUMN yang dikelola pusat telah didirikan di kawasan ini. (Xinhua/Mu Yu)

Xiong’an, yang berlokasi sekitar 100 km dari Beijing, dirancang sebagai model kota pintar generasi baru. Dengan dukungan jaringan 50G-PON dari Huawei dan China Unicom, kota ini menawarkan kecepatan internet hingga 10GB per detik — cukup untuk mendukung aplikasi berat seperti VR, AR, digital twin, hingga kendaraan otonom.

Pemerintah China menyebut Xiong’an sebagai “kota contoh nasional” untuk urbanisasi berbasis teknologi. Infrastruktur kota sepenuhnya didesain mendukung integrasi AI, sistem transportasi pintar, serta layanan publik digital real-time.

Namun, laporan lapangan menunjukkan bahwa Xiong’an belum berhasil menarik arus penghuni secara signifikan. Pembangunan fisik berjalan cepat, tetapi hunian, pusat bisnis, dan aktivitas ekonomi masih terbatas. Beberapa pengamat menyebutnya “kota demo” — lebih cocok sebagai laboratorium urban dibandingkan ruang hidup sehari-hari.

“Teknologinya luar biasa, tapi kota bukan hanya soal infrastruktur. Tanpa komunitas, sulit menciptakan dinamika sosial yang hidup,” ujar analis urbanisme dari Tsinghua University.

Kurangnya investasi swasta dan minimnya insentif bagi warga untuk pindah ke Xiong’an turut memperlambat pertumbuhan kota ini. Meski demikian, pemerintah tetap optimistis Xiong’an akan tumbuh seiring berjalannya waktu sebagai pusat teknologi dan inovasi.

Xiong’an mencerminkan ambisi besar China dalam menciptakan kota futuristik berbasis AI dan internet ultra-cepat. Namun, proyek ini juga menjadi pengingat bahwa membangun kota bukan hanya soal teknologi, tapi juga manusia yang menghidupinya.

Write a Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The AI Lab Insider!

Get the latest AI insights, exclusive updates, and special invites straight to your inbox!
Pure inspiration, zero spam ✨