Setelah 18 tahun kehilangan kemampuan berbicara akibat stroke, seorang wanita bernama Ann akhirnya bisa mengucapkan “Aku sayang kamu” kepada anaknya. Teknologi implan otak dan kecerdasan buatan menjadi kunci dalam momen emosional ini.
Ann, penyintas stroke asal Amerika Serikat, menjalani prosedur revolusioner yang melibatkan chip implan di otaknya. Teknologi ini mampu membaca sinyal otak saat Ann berusaha berbicara, kemudian menerjemahkannya menjadi teks, suara, dan bahkan ekspresi wajah melalui avatar digital real-time.
Avatar tersebut dirancang menyerupai Ann di masa sebelum stroke, memungkinkan interaksi yang lebih personal dan emosional. Sistem ini dikembangkan oleh tim ilmuwan saraf dan insinyur AI dari berbagai institusi, dan menandai kemajuan signifikan dalam bidang neuroteknologi.
“Ini bukan hanya tentang berbicara, ini tentang mengembalikan koneksi manusia,” ujar salah satu peneliti utama dalam pernyataan resminya.
Teknologi ini menggabungkan neuroprostetik, pemrosesan bahasa alami, dan animasi digital untuk menciptakan sistem komunikasi yang mendekati cara bicara alami. Peneliti menilai solusi ini dapat menjadi harapan baru bagi jutaan penyintas stroke dan penderita gangguan saraf lainnya di seluruh dunia.
Kisah Ann menegaskan potensi AI bukan sekadar alat futuristik, tapi sebagai jembatan menuju pemulihan kemanusiaan. Inovasi ini menunjukkan bahwa di tangan yang tepat, teknologi mampu mengembalikan suara yang telah lama hilang—secara harfiah dan emosional.
Mind blowing 🤯