Gelar Panjang vs Skill Relevan: Siapa yang Menang di Era AI?

Jad Tarifi, mantan kepala tim AI Google, mengingatkan dunia akademik bahwa gelar panjang seperti PhD bisa jadi kurang relevan di era AI. Kini, perusahaan dan industri lebih menilai soft skills, pengalaman nyata, dan kemampuan adaptasi daripada sekadar gelar akademik.

Di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat, banyak anak muda mulai menimbang ulang jalur pendidikan formal. Alih-alih mengejar gelar panjang, sebagian memilih fokus ke proyek nyata, magang di startup, atau belajar mandiri lewat internet.

“Di era AI, kemampuan untuk belajar cepat, beradaptasi, dan mempraktikkan ilmu lebih penting daripada gelar panjang semata,” kata Tarifi dalam konferensi virtual pekan lalu.

Data juga mendukung tren ini. Survei global menunjukkan 68% perusahaan teknologi lebih menghargai pengalaman proyek dan keterampilan praktis dibanding latar belakang pendidikan formal. Dengan AI yang terus mengubah pekerjaan dan peran profesional, kecepatan belajar dan relevansi skill menjadi kunci.

Meski begitu, bukan berarti gelar akademik kehilangan nilai. Gelar tetap relevan untuk riset mendalam, posisi spesialis, atau bidang yang menuntut standar regulasi tinggi. Namun, bagi banyak anak muda yang ingin cepat terjun ke industri AI, portfolio nyata dan kemampuan problem solving sering kali lebih menentukan karier.

Jadi, pertanyaannya bagi generasi muda sekarang: apakah gelar yang kamu kejar benar-benar diperlukan untuk kariermu, atau hanya untuk mengisi CV dan kartu nama? Di era AI, skill relevan dan pengalaman nyata tampaknya jadi pemenang utama.

Write a Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The AI Lab Insider!

Get the latest AI insights, exclusive updates, and special invites straight to your inbox!
Pure inspiration, zero spam ✨